Skip to main content

Percaya Saja. . .

Kau pasti pernah berbicara pada dirimu sendiri. Bertanya tentang apapun yang menjadi tanya bagimu. Meceritakan apapun yang kau pikirkan. dan kadangan dirimu sendiri bisa menjawab pertanyaanmu lebih dari bayanganmu. Dan mendengarkan lebih baik dari yang kau duga.

Kau mungkin akan kecewa  pada awalnya dia belum mampu memenuhi ekspetasimu. Dia masih saja diam ketika kau bertanya. Masih saja acuh ketika kau bercerita. Terus saja bertaya dan bercerita, dirimu itu hanya ragu apa kau akan percaya dengan jawabannya dia hanya takut kalau harus kau acuhkan saat kau bercerita. Karena pada dasarnya itu yang selalu kau lakukan padanya.

Ah kau tidak pernah sadar kalau dirimu itu selalu menunggu kau untuk bertanya dan bercerita. Mengajakmu mengenalmu lebih baik siapa kau dan dirimu itu seharusnya. Dia hanya bisa menunggu untuk kau sendiri datang dan menyapanya dengan penuh rasa percaya.

Dia mungkin akan mati perlahan, membeku dengan sendirinya tanpa kau sadar. Tapi dia bisa apa selain menunggumu untuk menyentuhnya, menghangatkannya kembali. Cara terbaik untuknya kembali padamu.

Percaya saja pada dirimu sendiri, yakin kalau dirimu adalah satu satunya tempat untuk bisa bahagia dengan lepas. Bersyukur telah memilikinya, walau kadang kau membencinya kenapa kau harus memiliki dirimu yang seperti itu. Kau bertanya padanya walau pada awalnya adalah pertanyaan tanpa jawab, sebenarnya itu bukanla pertanyaan tanpa jawab hanya saja kau tidak mau percaya dengan jawabannya.

Ha...ha... tapi tak apa dirimu akan tetap disana. Menunggu sampai kau mampu menerimanya. Menunggu sampai kau akan bergantung padanya. Karena bergantung pada diri yang lain akan lebih merusakmu. Sebaik apapun kau adalah dirimu yang tau. Jadi percaya saja...

Comments

Popular posts from this blog

Illusion

I am the most miserable. Why ? you know my figure is someone who have so many dreams. And always doing whatever i want as much as possible. I always laugh out load that i could. Or run and jump as i want.  Even,  I please speak with invective. Bad indeed, but it was feel better than now. Now, I’m just sit and  stare blankly to  all directions. Silence without a cup of coffee like  normally. There are just some fucking papers that contains scratch without clarity. Or, when I'm just sitting among the noisy sound that pierced my ears. It's annoying because my lips can’t speak as usual. Even, to greet them were sickening.  I am very lazy. It’s NOT me. But, here i am now. Only talking with myself without voice anymore. I’m gonna insane. But, i really really lost my directions. Even to speak, i don’t know how to do it. I asked. Where it was started? Silence, Quiet, I remember, the last time i has my voice is when my last trip. ...

Dia, di pojok bayangan

            Saya telah kehilanga dia lagi. Bodohnya saya. Membiarkan lagi dan lagi merasa hal yang tidak menyenangkan. Terbuang             Bukankah begitu? Jadi jalang sangat menyakitkan. Tapi entah mengapa saya menikmatinya. Berkali-kali saya menyakinkan diri untuk berhenti. Namun mereka terlalu sayang untuk diabaikan.             Saya memang bodoh bagi kalian. Merelakan ‘tubuh’ saya untuk ‘dijual’. Saya akui itu. Tapi saya tidak pernah bosan untuk berpura-pura tersenyum pada kalian yang selalu merendahkan saya. Meremehkan saya untuk banyak hal yang memang tidak ingin saya lakukan. saya tidak peduli kalian senang atau tidak. Saya tidak peduli kalian marah atau kecewa. Saya tidak peduli.             Saya peduli pada dia. dia yang terluka. dia yang menderita. dia yang sendiri. dia ...

tentang Rindu

Malam itu untuk pertama kalinya kudengar tentang rindu. Rindu dalam arti yang sebenar-benarnya. Dia datang dibawah remangnya cahaya bulan,  aku hanya diam memandangnya.  Berharap ia tak benar-benar datang ke sisiku. Aku membisu menyembunyikan diriku dalam bayangan gelap. Berusaha agar tak terlihat.             Ternyata usaha ku sia-sia. Dia bisa menemukanku dalam bayangan sang gelap. Senyumn samarnya menyapaku. Senyum yang sudah sekian lama kuhindari. Saat itu juga aku sadar bahwa aku sungguh merindu.             Rindu lengannya yang sering menjadi bantal tidurku saat aku sedang direngkuh semesta. Rindu suaranya yang sering bernyanyi bersama ombak. Rindu bibirnya yang selalu tersenyum menyapaku dan dengan angkuhnya menciumku. Rindu dingin tubuhnya yang menjadi cerita paling menyenangkan saat aku butuh  cerita menakjubkan       ...