Skip to main content

perempuan ini,

Perempuan ini sedang berangan tentang seandainya.
Perempuan ini sedang dalam pengharapan.
Perempuan ini sedang mencarimu.

Belakangan ini dia membisu dari dunia yang dia kenal.
Menjauh dari semua yang dia punya.
Hanya agar dia bebas untuk berangan, berharap, dan mencari.

dia terlalu nyaman berbicara pada dirinya yang sedang sekarat lagi.
Tapi dia tidak pernah sadar.
Ah, persetan tentang dirinya yang sedang sekarat. Apa pedulimu?

Dia hanya butuh beberapa minuman agar hilang sadar.
Atau tetap setia dengan cangkir cangkir kopinya agar tetap sadar?


Kau yang menentukan, apa yang harus perempuan ini miliki.

Aku jadi ingat ketika aku hilang sadar karenamu saat dulu.
Kau membawaku bermimpi indah pada akhirnya.
Bukan. Padahal yang kuinginkan adalah mimpi buruk.
Persetan tentangmu.

Saat ini biarkan perempuan ini yang bermain.

Ingatkan dia tentang aturannya. .

Sebentar lagi perempuan ini akan menjadi pemain yang lebih menakjubkan dariku.
Percaya saja!

Comments

Popular posts from this blog

Illusion

I am the most miserable. Why ? you know my figure is someone who have so many dreams. And always doing whatever i want as much as possible. I always laugh out load that i could. Or run and jump as i want.  Even,  I please speak with invective. Bad indeed, but it was feel better than now. Now, I’m just sit and  stare blankly to  all directions. Silence without a cup of coffee like  normally. There are just some fucking papers that contains scratch without clarity. Or, when I'm just sitting among the noisy sound that pierced my ears. It's annoying because my lips can’t speak as usual. Even, to greet them were sickening.  I am very lazy. It’s NOT me. But, here i am now. Only talking with myself without voice anymore. I’m gonna insane. But, i really really lost my directions. Even to speak, i don’t know how to do it. I asked. Where it was started? Silence, Quiet, I remember, the last time i has my voice is when my last trip. ...

Dia, di pojok bayangan

            Saya telah kehilanga dia lagi. Bodohnya saya. Membiarkan lagi dan lagi merasa hal yang tidak menyenangkan. Terbuang             Bukankah begitu? Jadi jalang sangat menyakitkan. Tapi entah mengapa saya menikmatinya. Berkali-kali saya menyakinkan diri untuk berhenti. Namun mereka terlalu sayang untuk diabaikan.             Saya memang bodoh bagi kalian. Merelakan ‘tubuh’ saya untuk ‘dijual’. Saya akui itu. Tapi saya tidak pernah bosan untuk berpura-pura tersenyum pada kalian yang selalu merendahkan saya. Meremehkan saya untuk banyak hal yang memang tidak ingin saya lakukan. saya tidak peduli kalian senang atau tidak. Saya tidak peduli kalian marah atau kecewa. Saya tidak peduli.             Saya peduli pada dia. dia yang terluka. dia yang menderita. dia yang sendiri. dia ...

tentang Rindu

Malam itu untuk pertama kalinya kudengar tentang rindu. Rindu dalam arti yang sebenar-benarnya. Dia datang dibawah remangnya cahaya bulan,  aku hanya diam memandangnya.  Berharap ia tak benar-benar datang ke sisiku. Aku membisu menyembunyikan diriku dalam bayangan gelap. Berusaha agar tak terlihat.             Ternyata usaha ku sia-sia. Dia bisa menemukanku dalam bayangan sang gelap. Senyumn samarnya menyapaku. Senyum yang sudah sekian lama kuhindari. Saat itu juga aku sadar bahwa aku sungguh merindu.             Rindu lengannya yang sering menjadi bantal tidurku saat aku sedang direngkuh semesta. Rindu suaranya yang sering bernyanyi bersama ombak. Rindu bibirnya yang selalu tersenyum menyapaku dan dengan angkuhnya menciumku. Rindu dingin tubuhnya yang menjadi cerita paling menyenangkan saat aku butuh  cerita menakjubkan       ...