Skip to main content

Sayang

Aku cukup sadar diri untuk tidak mengganggumu, sayang. Setidaknya itu yang sedang aku usahakan. Bukan lagi nyaman bercengkrama denganmu. Namun nyaman untuk berlari menghindar.
Tidak. Aku tidak sedang patah hati karena mu, sayang. Aku hanya sedang menjagamu dari rasa kecewa. Aku tau kau saat ini sedang bersenang-senang dengan kesenanganmu. Aku mengerti jika kesenanganmu itu bukan lagi aku. Gadis bodoh yang menunggu kabarmu. Menanti ajakanmu untuk berjumpa. Mengharapkan kehadiranmu didepan pagar dengan senyummu. Dan memelukku saat aku menghampirimu. Lalu bersama kita bercerita hingga larut.
Tidak, bukan lagi aku yang jadi kesenanganmu untuk itu semua.
Pedulikan omong kosong yang sedang kau mainkan, sayang. Aku mungkin terlalu tergila-gila dengan bualanmu. Tidak, bukan hanya sekedar bualan tapi juga belaianmu. Sentuh yang setiap saat membuatku mengenang.  Sama sepertimu, aku sedang bersenang-senang dengan kesenanganku. Kau. Sayang

Mungkin aku terlihat terlalu banyak membuang-buang waktu. Untukmu sayang. Tapi bukankah waktu memang selayaknya untuk dibuang. Terkhusus untukmu sayang. Aku sedang mencari waktu lain untuk sekedar bisa membuang-buang waktu. Sedang beralasan untuk bersenang-senang dengan kesenanganku. Mencari waktu dan alasan untukmu bersenang-senang dengan kesenanganmu saat dulu. Aku.

Hei! Menyenangkan bukan bersenang-senang memadu kasih dengan gadis bodoh ini. kau sendiri yang mengatakan itu. Ingin berjumpa setidaknya setelah aku kembali. Untuk bertemu dan bercerita. Kau bilang tengah menyimpan cerita yang sangat banyak. Terkhusus untukku.  Menyiapkan hadiah untuk ulang tahunku yang belum sempat kita rayakan.

Hah! Bodoh aku percaya, sungguh tak ada pikiran tentang kau yang akhirnya ingkar janji. Kau tokoh laki-laki yang sangat sempurna.sayang. sungguh sempurna. Bahkan untuk menipu.

Biarlah lagi-lagi aku ditinggalkan. Sekali lagi aku menyombongkan senyum sempurna mengatakan bahwa kau bukanlah bagian terbodoh dalam angan. Yang pada kenyataannya aku sedang menonton, kau.yang sedang bermain dengan kesenanganmu lagi. Kesenangan barumu. Perempuan yang sangat cerdas yang membuatmu tertarik untuk bersenang-senang dengannya.

Sangat berbeda denganku bukan?

Sayang terlalu sayang. Aku bahkan masih memanggilmu sayang. Bukan apa, hanya untuk mengingat bahwa aku pernah terlalu bodoh menikmati bualanmu. Untuk menyadarkan bahwa aku sangat sangat bodoh.

Bukankah memang ini yang perempuan bodoh seperti-ku lakukan ?

Sayang.



Comments

Popular posts from this blog

Illusion

I am the most miserable. Why ? you know my figure is someone who have so many dreams. And always doing whatever i want as much as possible. I always laugh out load that i could. Or run and jump as i want.  Even,  I please speak with invective. Bad indeed, but it was feel better than now. Now, I’m just sit and  stare blankly to  all directions. Silence without a cup of coffee like  normally. There are just some fucking papers that contains scratch without clarity. Or, when I'm just sitting among the noisy sound that pierced my ears. It's annoying because my lips can’t speak as usual. Even, to greet them were sickening.  I am very lazy. It’s NOT me. But, here i am now. Only talking with myself without voice anymore. I’m gonna insane. But, i really really lost my directions. Even to speak, i don’t know how to do it. I asked. Where it was started? Silence, Quiet, I remember, the last time i has my voice is when my last trip. ...

Dia, di pojok bayangan

            Saya telah kehilanga dia lagi. Bodohnya saya. Membiarkan lagi dan lagi merasa hal yang tidak menyenangkan. Terbuang             Bukankah begitu? Jadi jalang sangat menyakitkan. Tapi entah mengapa saya menikmatinya. Berkali-kali saya menyakinkan diri untuk berhenti. Namun mereka terlalu sayang untuk diabaikan.             Saya memang bodoh bagi kalian. Merelakan ‘tubuh’ saya untuk ‘dijual’. Saya akui itu. Tapi saya tidak pernah bosan untuk berpura-pura tersenyum pada kalian yang selalu merendahkan saya. Meremehkan saya untuk banyak hal yang memang tidak ingin saya lakukan. saya tidak peduli kalian senang atau tidak. Saya tidak peduli kalian marah atau kecewa. Saya tidak peduli.             Saya peduli pada dia. dia yang terluka. dia yang menderita. dia yang sendiri. dia ...

tentang Rindu

Malam itu untuk pertama kalinya kudengar tentang rindu. Rindu dalam arti yang sebenar-benarnya. Dia datang dibawah remangnya cahaya bulan,  aku hanya diam memandangnya.  Berharap ia tak benar-benar datang ke sisiku. Aku membisu menyembunyikan diriku dalam bayangan gelap. Berusaha agar tak terlihat.             Ternyata usaha ku sia-sia. Dia bisa menemukanku dalam bayangan sang gelap. Senyumn samarnya menyapaku. Senyum yang sudah sekian lama kuhindari. Saat itu juga aku sadar bahwa aku sungguh merindu.             Rindu lengannya yang sering menjadi bantal tidurku saat aku sedang direngkuh semesta. Rindu suaranya yang sering bernyanyi bersama ombak. Rindu bibirnya yang selalu tersenyum menyapaku dan dengan angkuhnya menciumku. Rindu dingin tubuhnya yang menjadi cerita paling menyenangkan saat aku butuh  cerita menakjubkan       ...