Skip to main content

Tuhan sedang bercanda

Saya  sedang mempertanyakan siapa aku saat ini. sungguh rasa rasanya saya sedang berada dalam tubuh dan dunia yang asing. Ya meskipun saya sedikit mengenalnya. Saat ini terlalu banyak perubahan yang harus saya cerna. Mulai dari kondisi biologis dan juga psikologis saya. 

Mungkin saya hanya sedang kebingungan. Ah bukannya saya selalu kebingungan.

Tapi setidaknya saat ini saya tau dimana harus singgah setidaknya hingga saat ini sebelum menentukan tempat singgah ini saya benar benar jadi rumah untuk tinggal atau tetap menjadi persinggahan saja. Tentu saja saya butuh  waktu untuk itu.

Sial. Masih saja saya jadi manusia yang dikungkung oleh waktu.

Terlalu banyak yang saya lakukan hingga saya sadar sejatinya saya tidak melakukan apa pun. Terlalu sering berangan hingga terbangun bahwa semua hanya kenangan. Sial apa yang sedang saya lakukan saat ini. ‘
Oh sungguh sialan. Siapa saya saat ini. mungkin jika saya bisa berdiskusi ria dengan saya beberapa bulan lalu dia tidak akan menyangka saya bisa seperti ini. tidur manis di ranjang tanpa mengeluh.

Bukankah itu yang di impikan saya dulu. Hebat saya sungguh berhasil melakukannya saat ini.

Hebatnya saya saat ini.

Hingga saya menyadari satu hal. Sejak dulu memang saya hanya sendiri. saya dan aku. Tentu saja kami memiliki pergaulan yang banyak dan luas. Saya dan aku, jangan tanya nama kami. Siapapun saya jamin bisa mengetahuinya.
Hanya saja saya sadar bahkan saya tidak pernah berada dalam satu lingkaran utuh. Selalu melompat dari satu lingkaran kelingkaran lainnya. Bermain hingga peluh lalu tidur untuk melupa. Dan terus saya mengulang.
Tuhan pun tidak ragu mengajak saya bercanda. Diberikannya permainan-permainan menyeramkan untuk saya. untuk menyadarkan saya agar saya berhenti. Dipasangkannya  saya pada  lawan bermain menyenangkan. Dikenalkannya saya iblis untuk menbantu saya.

Sungguh Tuhan sangat pandai bercanda.

Iblis itu. jadi tempat singgah saya. lawan-lawan bermain saya sungguh picik. Saya nyaris mati beberapa kali. Iblis itu pun tak kalah jahat. Dibantunya saya dengan cara-cara diluar nalar saya. diberinya saya satu per satu cercaan. Tidak, saya tidak marah mendengar cetiap cercanya. Hanya beberapa kali sakit hati. Lama lama makin menyakitkan ternyata. Tapi saya tidak marah tapi sedikit kesal. Namun berulang saya mengatakan pedih. Semakin saya tersadar iblis itu sedang menyadarkan saya.


Comments

Popular posts from this blog

Illusion

I am the most miserable. Why ? you know my figure is someone who have so many dreams. And always doing whatever i want as much as possible. I always laugh out load that i could. Or run and jump as i want.  Even,  I please speak with invective. Bad indeed, but it was feel better than now. Now, I’m just sit and  stare blankly to  all directions. Silence without a cup of coffee like  normally. There are just some fucking papers that contains scratch without clarity. Or, when I'm just sitting among the noisy sound that pierced my ears. It's annoying because my lips can’t speak as usual. Even, to greet them were sickening.  I am very lazy. It’s NOT me. But, here i am now. Only talking with myself without voice anymore. I’m gonna insane. But, i really really lost my directions. Even to speak, i don’t know how to do it. I asked. Where it was started? Silence, Quiet, I remember, the last time i has my voice is when my last trip. ...

Dia, di pojok bayangan

            Saya telah kehilanga dia lagi. Bodohnya saya. Membiarkan lagi dan lagi merasa hal yang tidak menyenangkan. Terbuang             Bukankah begitu? Jadi jalang sangat menyakitkan. Tapi entah mengapa saya menikmatinya. Berkali-kali saya menyakinkan diri untuk berhenti. Namun mereka terlalu sayang untuk diabaikan.             Saya memang bodoh bagi kalian. Merelakan ‘tubuh’ saya untuk ‘dijual’. Saya akui itu. Tapi saya tidak pernah bosan untuk berpura-pura tersenyum pada kalian yang selalu merendahkan saya. Meremehkan saya untuk banyak hal yang memang tidak ingin saya lakukan. saya tidak peduli kalian senang atau tidak. Saya tidak peduli kalian marah atau kecewa. Saya tidak peduli.             Saya peduli pada dia. dia yang terluka. dia yang menderita. dia yang sendiri. dia ...

tentang Rindu

Malam itu untuk pertama kalinya kudengar tentang rindu. Rindu dalam arti yang sebenar-benarnya. Dia datang dibawah remangnya cahaya bulan,  aku hanya diam memandangnya.  Berharap ia tak benar-benar datang ke sisiku. Aku membisu menyembunyikan diriku dalam bayangan gelap. Berusaha agar tak terlihat.             Ternyata usaha ku sia-sia. Dia bisa menemukanku dalam bayangan sang gelap. Senyumn samarnya menyapaku. Senyum yang sudah sekian lama kuhindari. Saat itu juga aku sadar bahwa aku sungguh merindu.             Rindu lengannya yang sering menjadi bantal tidurku saat aku sedang direngkuh semesta. Rindu suaranya yang sering bernyanyi bersama ombak. Rindu bibirnya yang selalu tersenyum menyapaku dan dengan angkuhnya menciumku. Rindu dingin tubuhnya yang menjadi cerita paling menyenangkan saat aku butuh  cerita menakjubkan       ...