Skip to main content

Relung Angan Nona


pernah mendengar ujaran terpenjara sepi ?
mungkin bisa jadi itulah yang kerap hadir pada relung angan Nona.

sedang terpenjara

dulu pernah berangan punya tempat untuk tinggal,
tak perlu lagi luntang lantung setiap malam untuk mencari teman.
karena Nona selalu Kesepian.

setiap malam Nona mengetuk pintu siapa saja.
dengan ingin bisa tinggal,
ah sekalinya diijinkan tinggal tubuh Nona jadi tumbal.
sekali dua kali Nona relakan mereka menyentuh Nona.
hingga si Nona ini malah semakin kesepian.
akalnya pun sudah tak tau dimana
hanya tinggal nafsu dan buasnya binatang
yang haus kasih.

sekali pernah Nona hanya berdiri didepan pintunya tidak mengetuk, 
hanya melihat siapa siapa saja yang berada disana.
satu dua sosok mengajak Nona berbicara, 
hingga menyentuh akal Nona yang tinggal sedikit.
memberikan Nona keyakinan bahwa didalam sana akan baik baik saja.
tubuh Nona tak perlu jadi tumbal.
tak ada tangan tangan nakal yang menggerayangi setiap mili Nona.
sudah pernah seyakin itu Nona saat lalu.
ah namun si sial tetap mengikuti,
tanpa sadar si Nona pun terusir sendiri.
melantung lagi lah .
.
Nona mencari pintu,

hingga dilihatnya tempat tanpa pintu,
sunggih gelap disana.
juga menyeramkan.
mungkin jika Nona masih punya akan Nona takkan mau masuk kesana.

tapi mau bercerita apa lagi,
Nona sudah seputus asa itu.
Nona sudah sepersetan itu pada apapun.
mau apalagi yang ia tumbalkan ?
harga diri pun tak punya.
kekayaan ? setan apalagi itu.
ah Nona hanya punya berbait bait kehampaan juga kesedihan dan kebingungan.
siapa yang mau menukarnya dengan kasih?
dan duduk lah Nona,
dalam gelapnya tempat itu memandang keluar melihat setiap sosok yang berlalu lalang dengan sumringah.
bermesra tanpa busana.

sedang Nona? tubuh pun rasa rasanya sudah bukan milik Nona lagi.
saat itu, setiap malam Nona terlelap sendirian, tanpa kasih juga Kain. tanpa harap dan sedang putus asa .
.
ah sepi itu, sekarang juga tak tau dimana tinggalnya.

sudah ramai ini rasanya Nona, semakin terpenjara
rasa rasanya semakin bebas saja.
bisik Nona pada dirinya yang sedang berusaha mengimani rasa syukur

Comments

Popular posts from this blog

Illusion

I am the most miserable. Why ? you know my figure is someone who have so many dreams. And always doing whatever i want as much as possible. I always laugh out load that i could. Or run and jump as i want.  Even,  I please speak with invective. Bad indeed, but it was feel better than now. Now, I’m just sit and  stare blankly to  all directions. Silence without a cup of coffee like  normally. There are just some fucking papers that contains scratch without clarity. Or, when I'm just sitting among the noisy sound that pierced my ears. It's annoying because my lips can’t speak as usual. Even, to greet them were sickening.  I am very lazy. It’s NOT me. But, here i am now. Only talking with myself without voice anymore. I’m gonna insane. But, i really really lost my directions. Even to speak, i don’t know how to do it. I asked. Where it was started? Silence, Quiet, I remember, the last time i has my voice is when my last trip. ...

Rasa dalam Mimpi

Ceritanya masih sama saat kali pertama dia menatapku. Membiarkanku berkaca pada bola matanya yang hitam pekat itu. Membawaku tenggelam bersama imaji yang entah kemana. Aku ingin, tapi semua inginku masih mengambang. Membirkannya menebak apa inginku itu sama saja seperti membunuhku. karna aku sendiri tak pernah tau apa yang sebenarya. Membiarkannya meraba apa yang kubutuhkan sama seperti membuatnya tersesat dalam ruang hampa. Dan aku sebagai ruang hampanya itu, tak ada  yang jelas disana. Hanya ada kosong. Aku masih sering bertanya apa ini mimpi atau bukan. Apa dia benar orang yang bisa kulihat dengan jelas dalam waktu yang sesungguhnya. Maksudku, orang yang sungguh sunguh bisa kulihat raganya dalam dunia nyata. Karena jujur saja aku selalu melihatnya hanya saat aku tertidur dan pikiranku sedang sangat kacau. Dia sering kali tiba-tiba muncul dan membuat pikiranku menjadi lebih baik. Dia yang jujur saja tak permah kukenal wajahnya. Tapi aku tau rasanya saat dia berada didekatk...

Dia, di pojok bayangan

            Saya telah kehilanga dia lagi. Bodohnya saya. Membiarkan lagi dan lagi merasa hal yang tidak menyenangkan. Terbuang             Bukankah begitu? Jadi jalang sangat menyakitkan. Tapi entah mengapa saya menikmatinya. Berkali-kali saya menyakinkan diri untuk berhenti. Namun mereka terlalu sayang untuk diabaikan.             Saya memang bodoh bagi kalian. Merelakan ‘tubuh’ saya untuk ‘dijual’. Saya akui itu. Tapi saya tidak pernah bosan untuk berpura-pura tersenyum pada kalian yang selalu merendahkan saya. Meremehkan saya untuk banyak hal yang memang tidak ingin saya lakukan. saya tidak peduli kalian senang atau tidak. Saya tidak peduli kalian marah atau kecewa. Saya tidak peduli.             Saya peduli pada dia. dia yang terluka. dia yang menderita. dia yang sendiri. dia ...