Skip to main content

Nikmat Saya


apa apa saja yang saya nikmati malam kemarin. 
satu dua sloki. oh, bukan sloki lagi. 
tapi gelas gelas berisi penuh anggur dan bir.

bukan untuk merayakan tapi untuk menuntaskan sedih nya malam kemarin.
saya menungguinya hingga sadar. 
mendengarkan rengekannya tentang hidupnya yang lebih melelahkan dari saya. 
asap mengepul dari mulut dan hidungnya.
nafasnya berat setiap menghisap rokoknya.
dia masih merengek tentang hidupnya.

orang orang mabuk mulai dibawa pulang. 
tapi dia tidak mau saya antar pulang. malah memesan dengan asal satu tower lagi.
saya menghela nafas mendengarkan rengekkannya.

saya mulai kesal antara hisapan rokoknya, tegukan minumannya dan juga rengekannya. 
saya seret saja dia pulang. 
menidurkannya layaknya anak saya yang masih balita.

dia tidak merengek lagi akhirnya.
tapi mendengkur. 
sialan. ini sudah kamis pagi
dan saya sudah harus membangunkannya.
untuk berpura pura jadi saya lagi 

Comments

Popular posts from this blog

Illusion

I am the most miserable. Why ? you know my figure is someone who have so many dreams. And always doing whatever i want as much as possible. I always laugh out load that i could. Or run and jump as i want.  Even,  I please speak with invective. Bad indeed, but it was feel better than now. Now, I’m just sit and  stare blankly to  all directions. Silence without a cup of coffee like  normally. There are just some fucking papers that contains scratch without clarity. Or, when I'm just sitting among the noisy sound that pierced my ears. It's annoying because my lips can’t speak as usual. Even, to greet them were sickening.  I am very lazy. It’s NOT me. But, here i am now. Only talking with myself without voice anymore. I’m gonna insane. But, i really really lost my directions. Even to speak, i don’t know how to do it. I asked. Where it was started? Silence, Quiet, I remember, the last time i has my voice is when my last trip. ...

Dia, di pojok bayangan

            Saya telah kehilanga dia lagi. Bodohnya saya. Membiarkan lagi dan lagi merasa hal yang tidak menyenangkan. Terbuang             Bukankah begitu? Jadi jalang sangat menyakitkan. Tapi entah mengapa saya menikmatinya. Berkali-kali saya menyakinkan diri untuk berhenti. Namun mereka terlalu sayang untuk diabaikan.             Saya memang bodoh bagi kalian. Merelakan ‘tubuh’ saya untuk ‘dijual’. Saya akui itu. Tapi saya tidak pernah bosan untuk berpura-pura tersenyum pada kalian yang selalu merendahkan saya. Meremehkan saya untuk banyak hal yang memang tidak ingin saya lakukan. saya tidak peduli kalian senang atau tidak. Saya tidak peduli kalian marah atau kecewa. Saya tidak peduli.             Saya peduli pada dia. dia yang terluka. dia yang menderita. dia yang sendiri. dia ...

tentang Rindu

Malam itu untuk pertama kalinya kudengar tentang rindu. Rindu dalam arti yang sebenar-benarnya. Dia datang dibawah remangnya cahaya bulan,  aku hanya diam memandangnya.  Berharap ia tak benar-benar datang ke sisiku. Aku membisu menyembunyikan diriku dalam bayangan gelap. Berusaha agar tak terlihat.             Ternyata usaha ku sia-sia. Dia bisa menemukanku dalam bayangan sang gelap. Senyumn samarnya menyapaku. Senyum yang sudah sekian lama kuhindari. Saat itu juga aku sadar bahwa aku sungguh merindu.             Rindu lengannya yang sering menjadi bantal tidurku saat aku sedang direngkuh semesta. Rindu suaranya yang sering bernyanyi bersama ombak. Rindu bibirnya yang selalu tersenyum menyapaku dan dengan angkuhnya menciumku. Rindu dingin tubuhnya yang menjadi cerita paling menyenangkan saat aku butuh  cerita menakjubkan       ...