Skip to main content

Lagi,

Lagi, aku terbangun dari tidurku disebelah orang asing. Aku tersenyum didepan mereka seolah olah menikmati banyak hal. Ah persetan. Kadang sungguh aku merasa benar benar seperti pelacur. bibirku bisa dinikmati siapapun. Tubuhku yang bisa dilihat dengan mudah atau bahkan tak terlihat. Sungguh aku sendiri tak tau apa yang sedang kunikmati. hasrat? Kepuasan? Bahagia? Kesenangan? Atau apa?! Semuanya masih saja terasa sangat datar.

Aku pernah beberapa kali terjebak dalam situasi yag hampir tak bisa kukendalikan. Banyak hal hal diluar kuasaku yang terjadi. Terjadi beberapa pemaksaan terhadap batas batas yang harusnya kujaga, namun mereka tetap saja berusaha untuk melanjutkan walaupun dengan sedikit kekerasan. Aku bilang cukup namun ternyata itu masih saja kurang dari cukup bagi mereka dan sebenarnya bagiku. Dan akhirnya aku terus melanjutkan padahal itu sudah lebih dari cukup.

Aku merasa berdosa? Tentu saja! Lalu apa sebenarnya yang bisa aku dapat kali ini? dongeng dongeng sebelum tidur dari mereka yang menemani tidurku? Rasa puas saat aku sadar bahwa aku tidak sendirian diruangan ini? Atau apa? Ah lagi lagi itu tidak jelas.

Aku bilang  andai saja mereka bisa menjadi sesuatu yang lebih untukku. Tentu saja aku tak perlu menemui mereka mereka yang lain. tapi persetan dengan itu semua. Pada ujungnya aku masih disini. Masih ditempat yang sama, masih dalam permainan yang sama, masih dengan aturan yang sama, yang berbeda hanya lawan mainku. Itu saja. Sedikit berbeda ceritanya saat bermain dengan sosok yang berbeda. Tapi pada dasarnya juga sama menyenangkan pada awalnya dan harus terbiasa ketika rasa itu mendatar. Ahh


Comments

  1. ada yang kita sebut rutinitas ... yah kata itu terdengar begitu membosankan, meski itu berada dalam konteks apapun -filsafat- sekalpun. tapi untuk beberapa hal yang kulakukan berdasar dorongan naluriku yang paling dalam. "rutinitas" terdengar lebih menjemukkan dari apapun. Untunglah tulisan ini sanggup memberi warna dari rasa datar yg kurasakan. ada yang kita sebut sensasi ... kata ini sejatinya adalah obat untuk semua kejemuan...

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Illusion

I am the most miserable. Why ? you know my figure is someone who have so many dreams. And always doing whatever i want as much as possible. I always laugh out load that i could. Or run and jump as i want.  Even,  I please speak with invective. Bad indeed, but it was feel better than now. Now, I’m just sit and  stare blankly to  all directions. Silence without a cup of coffee like  normally. There are just some fucking papers that contains scratch without clarity. Or, when I'm just sitting among the noisy sound that pierced my ears. It's annoying because my lips can’t speak as usual. Even, to greet them were sickening.  I am very lazy. It’s NOT me. But, here i am now. Only talking with myself without voice anymore. I’m gonna insane. But, i really really lost my directions. Even to speak, i don’t know how to do it. I asked. Where it was started? Silence, Quiet, I remember, the last time i has my voice is when my last trip. ...

Dia, di pojok bayangan

            Saya telah kehilanga dia lagi. Bodohnya saya. Membiarkan lagi dan lagi merasa hal yang tidak menyenangkan. Terbuang             Bukankah begitu? Jadi jalang sangat menyakitkan. Tapi entah mengapa saya menikmatinya. Berkali-kali saya menyakinkan diri untuk berhenti. Namun mereka terlalu sayang untuk diabaikan.             Saya memang bodoh bagi kalian. Merelakan ‘tubuh’ saya untuk ‘dijual’. Saya akui itu. Tapi saya tidak pernah bosan untuk berpura-pura tersenyum pada kalian yang selalu merendahkan saya. Meremehkan saya untuk banyak hal yang memang tidak ingin saya lakukan. saya tidak peduli kalian senang atau tidak. Saya tidak peduli kalian marah atau kecewa. Saya tidak peduli.             Saya peduli pada dia. dia yang terluka. dia yang menderita. dia yang sendiri. dia ...

tentang Rindu

Malam itu untuk pertama kalinya kudengar tentang rindu. Rindu dalam arti yang sebenar-benarnya. Dia datang dibawah remangnya cahaya bulan,  aku hanya diam memandangnya.  Berharap ia tak benar-benar datang ke sisiku. Aku membisu menyembunyikan diriku dalam bayangan gelap. Berusaha agar tak terlihat.             Ternyata usaha ku sia-sia. Dia bisa menemukanku dalam bayangan sang gelap. Senyumn samarnya menyapaku. Senyum yang sudah sekian lama kuhindari. Saat itu juga aku sadar bahwa aku sungguh merindu.             Rindu lengannya yang sering menjadi bantal tidurku saat aku sedang direngkuh semesta. Rindu suaranya yang sering bernyanyi bersama ombak. Rindu bibirnya yang selalu tersenyum menyapaku dan dengan angkuhnya menciumku. Rindu dingin tubuhnya yang menjadi cerita paling menyenangkan saat aku butuh  cerita menakjubkan       ...